Saat Biaya Hidup Kota Menggerus Kesehatan Mental Ibu

Penulis: Sri Rahayu
Kamis, 30 Juli 2026 | 07:02:00 WIB

Seiring dengan meningkatnya biaya hidup di kota besar, banyak dari kita yang merasakan tekanan finansial yang tak kunjung reda. Bagi seorang ibu, tekanan ini bisa terasa lebih berat karena harus mengatur keuangan keluarga, memikirkan kebutuhan anak, dan tetap menjaga kesejahteraan diri sendiri.

Stres keuangan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele. Ketika pemasukan tidak sebanding dengan pengeluaran, pikiran kita terus-menerus dipenuhi kekhawatiran: bagaimana membayar tagihan, bagaimana menabung untuk masa depan, bagaimana tetap bisa memberikan yang terbaik untuk buah hati.

Sayangnya, nasihat seperti 'kurangi gaya hidup' seringkali terasa tidak tepat sasaran. Sebab, tidak semua pengeluaran adalah gaya hidup. Tinggal di dekat kantor mungkin lebih mahal, tapi menghemat waktu dan tenaga. Transportasi pribadi mungkin diperlukan karena transportasi umum belum memadai. Makan di luar mungkin satu-satunya pilihan saat energi sudah habis setelah bekerja.

Ketika stres keuangan berkepanjangan, tubuh dan pikiran ikut terpengaruh. Sulit tidur, mudah cemas, sulit fokus, dan kelelahan emosional menjadi teman sehari-hari. Ironisnya, untuk mengatasi tekanan ini, kita mungkin bekerja lebih keras dan lebih lama, justru mengorbankan waktu istirahat dan kesehatan. Ujung-ujungnya, biaya kesehatan pun membengkak.

Penting untuk disadari bahwa kesehatan finansial dan kesehatan fisik saling terkait. Namun, pembicaraan tentang stres keuangan seringkali berhenti pada saran 'buat anggaran' atau 'kurangi pengeluaran'. Padahal, ada kalanya kita sudah sangat disiplin, tapi biaya hidup tetap melambung.

Kita perlu membedakan antara salah urus keuangan dan tekanan finansial. Yang pertama bisa diperbaiki dengan edukasi, yang kedua adalah masalah struktural yang tidak selalu bisa kita kendalikan. Menyalahkan diri sendiri dengan label 'boros' hanya akan menambah beban mental.

Tekanan finansial juga bisa mempengaruhi hubungan sosial. Melihat teman-teman berlibur atau makan di restoran mahal di media sosial bisa memicu perasaan iri dan tidak mampu. Padahal, banyak orang mungkin juga berjuang dengan pertanyaan yang sama: bagaimana tetap hidup layak di tengah kenaikan harga.

Lalu, apa yang bisa dilakukan? Pertama, kenali sumber tekanan. Apakah dari utang konsumtif, pendapatan tidak stabil, biaya tempat tinggal, atau kebutuhan keluarga? Kedua, buat batasan yang realistis. Tidak semua pengeluaran harus dihilangkan; beberapa adalah investasi untuk kesehatan mental, seperti waktu bersantai atau bersosialisasi.

Yang terpenting, perhatikan tanda-tanda ketika stres keuangan mulai mengganggu fungsi sehari-hari. Jika kekhawatiran tentang uang terus menghantui, mengganggu tidur, atau membuat Anda merasa putus asa, jangan ragu untuk mencari dukungan. Ini bukan sekadar masalah keuangan, tapi juga masalah kesehatan mental yang layak mendapat perhatian.

Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya tentang olahraga atau makanan sehat. Ada faktor ekonomi yang turut menentukan kesempatan kita untuk hidup sehat. Sudah waktunya kita tidak lagi menyalahkan diri sendiri atas stres keuangan. Karena ketika biaya hidup terus naik dan penghasilan stagnan, menjaga kesehatan mental adalah tentang menemukan cara untuk tetap merasa manusiawi.

Reporter: Sri Rahayu